Kehidupan akan terus berubah bahkan satu menit setelah sahabat membaca tulisan ini pun kehidupan ini masih akan kita pertanyakan. Tak ada yang pasti, selain waktu (tanggal) yang telah tercatat berurutan.
Karenanya begitu penting bagi semua untuk terus menyoal banyak hal, banyak kemungkinan, banyak kepentingan dan banyak pertanyaan sebagai upaya terkah terhadap harapan dan impian terbaik di masa mendatang.
Hari ini, kita masih berdinamika dalam kungkungan pandemi Covid-19. Banyak langkah dan gerak yang dibatasi. Jangankan bicara masa depan, bagi mereka yang kehilangan mata pencaharian di masa pandemi ini, bicara masa depan bisa jadi tidak penting lagi karena untuk bertahan hidup pun rasanya semakin sulit.
Karena itu, sikap reflektif begitu penting untuk dilakukan baik secara pribadi pun secara kelembagaan dalam kehidupan komunitas-komunitas yang terkoordinir.
Menyikapi hal tersebut, eksistensi setiap orang dan/atau lembaga begitu penting dipastikan di masa pandemi ini agar sikap reflektif ini meningkat menjadi lebih adaptif.
Setidaknya pandemi telah mengajari satu hal lagi bahwa jujur terhadap keadaan adalah sikap terhormat yang harus kita junjung tinggi demi kebaikan bersama sebagai entitas yang saling terhubung.
Dalam konteks bernegara, khususnya dalam menyikapi pandemi ini, kita perlu melepaskan barang-barang bawaan sejenak lalu duduk bertukar pikir dalam dialetika yang jujur tanpa bawaan apapun selain ideologi sebagai upaya mengejar cita-cita luhur para pendiri bangsa.
Untuk bisa berdiri pada posisi adaptif ini, seluruh elemen masyarakat penting untuk bersepakat bagaimana cara terbaik keluar dari persoalan pandemi covid-19 ini.
Untuk Kaum Penguasa.
Sebaik-baiknya keputusan adalah keputusan yang lahir untuk menjawab kebutuhan bersama. Sebagai negara demokrasi, setiap keputusan harus selalu menyediakan ruang sanggah sebab kebebasan berpendapat telah jelas ada dan harus diberi ruang. Karena itu sebelum dan setelah kita menilik lebih jauh realitas hari ini, tanya jawab sebaiknya tetap mendapat ruang agar demokrasi di masa pandemik tidak redup apalagi mati.
Lalu bagaimana dengan protokol kesehatan yang harus dipatuhi?
Hal lain yang harus kita akui selama pandemi Covid-19 ini adalah ia membiasakan kita beraktifitas dalam jaringan, selain untuk menghindari kerumunan, rasa-rasanya Covid-19 telah mengajak kita untuk semakin modern dalam beraktifitas. Jika sebelum pandemi Covid-19, aktifitas daring hanya milik orang-orang tertentu, di masa pandemi ini cara kerja itu telah manjadi milik semua orang.
Lebih lanjut, menyoal tentang anjuran pelarangan berkumpul dengn melibatkan banyak orang pun harus kita telisik lebih jauh dan mendalam, apakah anjuran ini efektif dan mampu menjawab kebutuhan semua kalangan yang serba berkepentingan?
Untuk merawat demokrasi kita tetap hidup, di masa pandemi ini pemerintah sebaiknya memanfaatkan media elektronik sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan rakyatnya. Jika aktivitas pemerintahan, dalam hal ini komunikasi antarsesama pemangku kepentingan bisa dilakukan secara daring, hal yang sama pun harusnya berlaku bagi rakyat kecil. Pemerintah harus tetap hadir di tengah-tengah masyarakat, mungkin bukan fisiknya tetapi minimal pemikiran dan konsepnya dapat didengar langsung oleh masyarakat melalui kegiatan dalam jaringan, sebagai pembicara dalam webinar atau konsolidasi terbuka melalui jaringan internet misalnya yang memberikan kesempatan yang sama kepada masyarakat adalah salah satu pilihan yang bisa ditempuh.
Untuk Sahabat Sesama Rakyat Biasa.
Kita sudah pasti memiliki semakin banyak keluh kesah di masa pandemi Covid-19 ini. Namun demikian, kita harus tetap bersyukur bahwa kita mampu melewati masa-masa sulit ini hingga kini.
Salah satu sikap yang perlu untuk kita jaga adalah percaya kepada pemerintah, percaya bahwa pemerintah selalu berjuang untuk dapat membawa kita keluar dari masa-masa sulit ini. Namun tak sekedar percaya, sebagai penanggung jawab jalannya pemerintahan baiklah kita sepenuhnya mempercayakan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan yang berkompeten untuk melakukan yang terbaik bagi kemajuan bersama.
Meski demikian, peran kita adalah perlu memastikan eksistensi rakyat masih menjadi yang utama, cara memastikan salah satunya melalui sikap responsif atas kepercayaan yang mungkin saja tidak dijaga. Kritik mengkritik adalah salah satu budaya demokrasi. Karenanya, meski masih dalam situasi pandemi covid-19, budaya kritik mengkritik ini hendaknya tetap ada, melalui media elektronik seperti portal berita online atau pun melalui akun media sosial yang dapat diakses oleh masyarakat luas. Hanya dengan begitu pemerintah yang telah jarang blusukan di masa pandemi ini dapat kita pastikan bahwa mereka masih memikirkan kita selaku warganya.
Berbicaralah sebab berbicara saja belum tentu didengar apalagi kalau memilih diam.
Semoga Covid-19 tidak menjadi sarana untuk membungkam demokrasi. Ketika rakyat memilih di rumah, jangan ada yang sibuk beramahtamah untuk saling menguntungkan sebagai kolega.
Oleh;Lonardus Maraya.
Kaimana, 29 Agustus 2021.
Komentar
Posting Komentar