Siapa saya?
Reza A.A Wattimena dalam bukunya TENTANG MANUSIA, menyebut bahwa “saya” adalah kosong. “saya” datang dan pergi tergantung pada kondisi-kondisi yang memungkinkannya. Misalnya ketika saya sedang asyik menonton film “saya” seolah lenyap dan menyatu dengan film yang “saya” tonton. Hal ini diungkapkan ketika ia sedang mencoba merasionalisasikan bagaimana manusia melawan egonya sendiri untuk mendidik dendam, yaitu perasaan tidak terima ketika seseorang merasa dirinya diperlakukan tidak adil.
Dalam kehidupan sehari, kata “saya” digunakan ketika seorang sedang menunjuk dirinya sendiri baik ketika sedang berbicara maupun menulis. Lalu bagaimana mungkin Reza A.A Wattimena bisa mengatakan bahwa saya adalah kosong? Sekali lagi bahwa konteksnya pada saat itu, ia sedang mencoba merasionalisasikan kata “saya” dalam kaitannya dengan ego yaitu sebuah konsepsi indivitu tentang dirinya sendiri. Yang hendak digambarkan oleh Reza adalah tentang eksistensi manusia ketika sedang dalam suatu kondisi, bahwa ketika anda sedang menonton film, maka anda menyatu dengan film tersebut dan ketika anda sedang mendengar alunan musik anda hanyut dalam alunan musik tersebut, saat itu “saya” dalam diri anda seolah mundur ke belakang dan tak nampak lagi. Maka Reza mempertegas kembali bahwa “saya” itu perkawinan antara potensi dan kondisi.
Siapkah saya menuju normal baru?
Seperti kata Reza, "saya" adalah perkawinan antara potensi dan kondisi. Potensi yaitu kemampuan, kekuatan, kesanggupan, daya yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan. Sementara kondisi yaitu suatu keadaan yang sedang terjadi.
Saat ini kita semua sedang dalam kondisi yang tak biasa, virus covid-19 masih mengancam kesehatan dan hidup kita, rasa takut dan cemas masih menghantui semua umat manusia sehingga semua manusia sangat hati-hati dalam beraktivitas.
Saya harus bagaimana?
Kawinkan antara potensi yang ada pada diri anda dengan kondisi yang sedang anda jalani. Dengan potensi yang anda miliki, anda harus mampu hidup berdampingan dengan kondisi saat ini. Mungkin inilah yang dimaksudkan Presiden Jokowi sebagai berdamai dengan Covid-19. Berdamai berarti berhenti melihat corona sebagai musuh yang menakutkan, berdamai bisa dimaknai sebagai menjadikan diri anda sebagai pribadi yang mendamaikan antara diri anda sendiri dengan covid-19 juga dengan orang lain.
Pemerintah melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 telah mengeluarkan protokol kesehatan guna mencegah penularan covid-19 yakni dengan menjaga kebersihan tangan, tidak menyentuh wajah, menerapkan etika batuk dan bersin, jaga jarak, memakai masker saat keluar rumah, jaga kesehatan dan yang paling penting kuatkan imun juga imanmu. Dengan protokol kesehatan inilah kamu harus menjadi juru damai agar penularan dan penyebaran covid-19 dapat diberantas bersama-sama. Melawan covid-19 bukan hanya tanggungjawab gugus tugas percepatan penanganan covid tetapi menjadi tanggung jawab semua orang.
Jika demikian, ketika ada yang bertanya siapkah saya menuju normal baru, maka jawabanya harus Siap. Mengapa harus, karena hidup harus tetap berlanjut bahkan dalam kondisi sulit sekalipun.
Lalu bagaimanakah Normal baru itu?
Normal baru adalah tatanan kehidupan yang baru untuk beradaptasi dengan Covid-19. Sebuah kebijakan yang lahir karena covid-19 untuk menertibkan kehidupan berbangsa dan bernegara agar tetap berjalan normal dalam situasi yang sebenarnya abnormal. Ketika di lingkungan anda nantinya memberlakukan kebijakan normal baru dan dianggap sebagian orang sebagai suatu kebijakan yang menyusahkan, sebenarnya bukan normal barunya yang menyusahkan tetapi diri orang tersebut yang gagal memahami kondisinya sendiri. Kalau kata Reza, kamu yang gagal mengawinkan potensi dan kondisimu.
Jangan lagi bertanya, siapkah saya menuju normal baru, anda adalah di anda dengan segala potensi yang anda miliki maka marilah semua orang bersma-sama mengatakan, "harus siap menuju normal baru". Semoga Covid-19 segera berlalu dengan kemauan kita semua untuk bekerja sama mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Komentar
Posting Komentar