Pemberdayaan.
Mungkin banyak definisi tentang kata yang berkata dasar daya ini. Ada yang mengatakan pembedayaan adalah suatu upaya membentuk masyarakat yang tanggap dan kritis terhadap analisis kebutuhannya sendiri, ada yang mengatakan pemberdayaan adalah pembangunan manusia dari acu tak acu menjadi lebih peduli, ada pula yang mengatakan pemberdayaan merupakan strategi dalam mendidik masyarakat agar berdaya pikir dan berdaya aksi. Saya harus mengacungkan jempol tentang semua pandangan-pandangan tersebut. Selain karena kebebasan berpendapat telah dijamin oleh undang-undang, juga merupakan sikap sepakat saya tentang kandungan makna dari setiap kalimat tersebut.
Secara sederhananya dan lebih hemat katanya pemberdayaan adalah proses, cara, perbuatan memberdayakan. Bagaimana meningkatkan kecakapan dalam bertindak, meningkatkan kepekaan dalam merasa, kritis dan solutif dalam segala perkara sosial. Lebih sederhananya lagi pendekatan pemberdayaan adalah pendekatan untuk menghilangkan penumpang gratis dalam suatu kelompok masyarakat. Sehingga pada kelompok-kelompok masyarakat berdaya tak ada lagi masyarakat yang hanya merasa pandai tetapi tidak pandai merasa.
Konsep pemberdayaan mengusung semangat partisipatif, kemandirian, kebersamaan kesetaraan. Di tengah kehidupan yang serba modern, banyak hal dan kebutuhan tentang hidup ini yang semakin dimudahkan oleh kecanggihan teknologi. Hidup serba instan selama manusia memiliki uang. Lalu bagaimana dengan masyarakat yang kategori miskin?
Ketika mereka hendak membangun rumah, tidak kah mereka kesulitan karena tidak punya banyak uang? Tentu mereka kesulitan. Ketika mereka memiliki kerinduan-kerinduan, bagaimana mewujudkannya? Ketika mereka merasa tidak mampu, bagaimana? Cara terbaik untuk meretas persoalan-persoalan ini adalah melalui pendekatan-pendekatan pemberdayaan.
Ketika masyarakat tidak punya uang, tidak melulu solusinya dengan memberi mereka uang atau yang lazim disebut bantuan langsung tunai. Ketika masyarakat memiliki banyak kerinduan-kerinduan namun tak mampu mewujudkannya, jangan beri mereka janji-janji manis. Ketika mereka merasa tidak mampu, tak cukup hanya dengan memberinya motivasi-motivasi. "Sayangilah mereka, tinggallah bersama mereka, belajarlah dari mereka, cintailah mereka, mulailah dari apa yang mereka ketahui, bangunlah dari apa yang mereka miliki, dan setelah berhasil biarkan mereka yang tampil di depan dan mengatakan bahwa kami sendiri yang membangun semua ini" Kredo Pemberdayaan Masyarakat oleh Lao Tzu.
Kredo Lao Tzu ini, memberikan pesan kepada kita, bahwa masyarakat membutuhkan sentuhan bukan nyanyian.
Lebih dalam lagi kita perlu merenungkan secara jujur tentang karakter masyarakat kita hari ini yang semakin didominasi oleh karakter-karakter pragmatis juga apatis. Terima dulu baru berbuat, ada uang dulu baru bekerja. Bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian kini hanya sebatas pantun belaka dalam pelajaran bahasa Indonesia. Pesannya semakin kabur karena dalam ruang-ruang kelas telah diberi nilai angka 100 karena berhasil menghafal sekalipun tanpa penghayatab. Filosofi sapu lidi untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan pun kini hanya tinggal karya tulis tanpa implementasi, nyatanya budaya gotong royong semakin memudar.
Berangkat dari pengamatan-pengamatan tersebut maka jalan satu-satunya adalah memaksa masyarakat dengan konsep pemberdayaan, cukup jelas tergambar dalam Kredo oleh Lao Tzu yang telah saya kemukakan diatas. Pemberdayaan harus mampu menjadi atraksi aksi di tengah-tengah masyarakat bersama-sama dengan mereka.
Dalam konteks kenegaraan, konsep pemberdayaan masyarakat harus mendapat dukungan penuh dari pemerintah sebagai pemangku dan pengambil kebijakan dalam sistem pemerintahan itu sendiri. Pemerintah tidak hanya memandang masyarakat sebagai objek atau penerima manfaat dari setiap peraturan dan kebijakan melainkan menjadikan masyarakat sebagai subjek dalam penataan sosial.
Pemerintah harus benar-benar mendengar jeritan rakyatnya agar tahu kalau rakyatnya masih sengsara, pemerintah harus memasang telinga dan hati dengan benar agar tahu rakyat mana saja yang telah bernyanyi ria karena hidupnya keenakan. Pemerintah harus melepas kaca mata hitamnya saat menemui rakyatnya agar bola matanya melihat dengan jelas setiap wajah-wajah mereka. Sudah saatnya semua aparatur negara benar-benar menjadi pengabdi yang baik bagi negeri.
Salam Pemberdayaan Masyarakat. Jalan menuju Indonesia yang dicita-citakan.
Komentar
Posting Komentar