Rindu di Tengah Covid-19

Sejak tanggal 2 Maret 2020 saat kali pertama pasien covid-19 dinyatakan positif di Indonesia, Sederat kisah memiluhkan menggemparkan seantero negeri ini bahkan dunia, ketakutan dan kecemasan mewabah begitu cepat senada dengan gemuruh riuh kepanikan karena covid-19. Covid-19 memang tak memandang siapa, yang tak siaga sewaktu-waktu bisa terjangkit. Virus ini sangat mematikan, begitu kata berita yang bertebar dimana-mana menyapa telinga, mata hingga hati setiap manusia yang peka. Pemberitaan ini pula yang semakin mempertegas bahwa Covid-19 benar-benar berbahaya.

Covid-19 telah membawa banyak perubahan tatanan kehidupan sosial belakangan ini. Yang suka nongkrong di warung kopi, yang gemar berpetualang, yang bekerja di jalanan dan hampir semua interaksi langsung manusia dikekang. Pertama karena dikekang oleh rasa takut dan yang kedua oleh kebijakan pemerintah seperti himbauan jaga jarak dari pemerintah hingga pemberlakuan Pembatasan Sosial berskala besar (PSBB)

Covid-19 memang telah menyeluduk masuk ke dalam hampir semua kisah tentang manusia. Tak terkecuali dalam pertautan rasa dua sejoli yang bersepakat memadu kasih. Tak ada pertemuan langsung hanya bisa berkabar via suara, adalah kenyataan pahit yang harus ditelan oleh pasangan muda mudi yang sedang dibakar api asmara dan dilanda gulungan ombak rasa saling memiliki. Jaga jarak.

Kalau banyak aktivitas harus dialihkan ke dalam jaringan, demikian juga kisah tentang asmara sepasang kekasih. Covid-19 hadir melegitimasi bahwa mereka memang sedang saling menyayangi. Ada rindu yang menyapa setiap saat, seakan memanggil untuk bertemu dan bertukar tatapan mesrah tetapi juga ada rasa takut yang membentang hingga terpaksa rasa rindu hanya bisa sebatas suara dan tatapan layar gadget masing-masing.

Covid-19 akhirnya menyuguhkan kenyataan baru, memiliki itu tak harus menggenggam tanganmu, memiliki juga sah dengan hanya berbagi kabar keadaan saja. Ya, memang sebelum covid-19 hadir pun telah banyak manusia yang merasa nyaman-nyaman meski tak harus selalu bersama tetapi kehadiran covid-19 ini benar-benar telah melegitimasi rindu, memateraikan kasih dan menjadi benteng pemisah dua raga yang saling terpaut dalam rasa. Rindu benar-benar nyata.

Anda tahu kenapa saya menulis ini?
Karena saya sedang menjadi korban covid-19, badan saya sehat tetapi rasaku tidak. Aku sedang merindukan kedua buah hatiku dan sudah pasti juga sedang rindu pada ibu mereka. '😂😂' tetapi hanya bisa bertahan memeluk rasa di sini karena ada jarak dan batasan yang melarang kami untuk berkumpul sementara waktu hingga situasi menjadi normal kembali.

Terima kasih telah membaca.
Jangan lupa, mampir di kolom komentar meski hanya sekedar singga dengan tawa dan senyum manismu.

Komentar