"Regulasi Belum Benar"



Ada satu persoalan yang menurut saya membuat perjalanan kehidupan kita berjalan tak begitu baik. Entah dalam kehidupan pribadi kita, kehidupan berkelompok dalam satu organisasi, juga dalam kehidupan sosial. Kita masih cukup nyaman bermain di atas regulasi yang sebenarnya telah paten dan final. Masih senang mencari celah untuk menyelipkan pembenaran yang kadang-kadang tujuannya hanya akan menyelamatkan kita sementara saja, atau bahkan sekedar menutupi kelemahan kita.

Kita kadang lupa bahwa kita pernah berikrar akan taat, setia dan tunduk pada hukum. Pertanyaannya, mengapa kita berani melanggar ikrar yang telah kita lafalkan tanpa paksaan?

Jawaban yang pertama, karena saat itu kita masih sadar bahwa itu baik. Kita kemudian memulai dengan menjadikan kesadaran tersebut sebagai dasar sebelum menemukan alasan-alasan yang secara perlahan mengikis kesadaran yang telah kita letakkan sendiri.

Jawaban yang kedua, karena lalai. Alasan ini sangat manusiawi dan dapat diterima secara umum ketika dipandang dari sisi kemanusiaan. Namun bukankah dalam pengakuan "lalai" itu telah terselip kesadaran itu sendiri? Jika demikian maka lahirlah 'pertanyaan berantai'. Pertanyaan berantai pun nantinya akan bermuara di meja hukum. Percayalah!

Jawaban yang ketiga adalah persoalan kemauan. Saya teringat salah satu pesan seorang kawan katanya, dalam beberapa tempat memang kita lebih membutuhkan siapa yang 'mau' daripada siapa yang 'bisa' sekalipun pada umumnya yang 'bisa' akan selalu diutamakan.

Lagi-lagi persoalan utamanya adalah kesadaran. Memang banyak hal yang menjadi sulit ketika kita tidak memiliki kesadaran.

KESADARAN PRIBADI
Kesadaran pribadi erat kaitannya dengan karakter, pengetahuan, hikmat dan hal-hal lain sifatnya pribadi sehingga terkadang yang lebih dominan adalah 'Ego' yaitu sebuah konsepsi seseorang akan dirinya. Kau siapa, saya siapa, kau cuma ini, sedangkan saya itu. Ego inilah yang kemudian dijadikan sebagai standar layak tidaknya suatu tindakan atau kebijakan.

KESADARAN KELOMPOK
Kesadaran kelompok penentunya adalah konsep yang berlaku secara internal dalam kelompok tersebut. Ketika kita berbicara konsep dalam suatu kelompok maka secara otomatis kita akan lari masuk ke dalam pola yang biasa disebut sebagai aturan main. Kesadaran kelompok harus dilahirkan dan ditumbuhkembangkan, maka akarnya adalah siapa pemilik kelompok tersebut. Untuk mewujudkan kesadaran kelompok maka yang pertama kita harus menuntaskan diri dalam persoalan yang sifatnya struktural untuk menyentuh persoalan yang substansial.

Satu tiang satu atap ragam interpretasi adalah pertanda regulasi belum benar. Itulah persoalan kita yang sebenarnya.

Salah seorang senior saya pernah berpesan "lebih baik membangun gubuk dalam dunia nyata daripada membangun istana dalam khayalan". Salah satu dari sekian banyak pesan yang berhasil mengubah pola pikir saya secara pribadi.

Sampai di sini dulu ya, berhubung kopi dan rokok sudah habis.. hehe

Jangan lupa, mampir di kolom komentar untuk memberi masukan yang positif.

Komentar