Kritik adalah buah dari tindakan dan keputuasan oleh sang pemangku kebijakan dari mereka yang merasa tidak menemukan kepuasan berdasarkan pemahaman mereka atas pengetahuannya yang berbeda dengan yang terjadi. Kritik jenis ini biasanya menimbulkan konflik karena terjadi setelah tindakan dan keputusan dinyatakan. Ada juga kritik yang datang di awal, biasanya kritik jenis ini lahir atas pengalaman dari mereka yang peduli, banyak orang menyebut ini sebagai kritik yang membangun karena menyangkut hari esok dan kemudian diperhalus dengan penyebutan lain yakni sekedar saran.
Pada prinsipnya, kritik itu baik tergantung siapa yang menerimanya dan dalam kondisi yang bagaimana. Disini yang paling menentukan adalah kesadaran.
Seorang pemabuk minuman keras tidak akan kompromi dengan kritik pada saat mereka sedang mabuk miras, roh halus yang berdiam dalam cairan tuak dan sopi tidak akan pernah menerima suara-suara positif ketika mereka sedang bekerja. Kondisi ini harus dipahami oleh siapa pun yang hendak melakukan kritik terhadap seseorang. Bahkan bukan hanya orang yang sedang mabuk minuman keras saja yang kebal/anti kritik, orang yang mabuk kekuasaan dan materi pun tak ada bedanya denga para pemabuk miras. Satu-satunya orang mabuk yang mampu menerima kritik adalah mereka yang sedang mabuk mobil, mereka akan pasrah apapun yang kita sampaikan karena mau melawan pun mereka sudah tak punya tenaga.. wkwkwk
Dewasa ini, masih banyak orang yang anti kritik, bahkan mereka yang mengaku kaum intelek pun tak semua senang dikritik, kembali lagi tergantung situasi dan kondisinya. Orang yang anti kritik cenderung pendendam, sekali dikritik langsung mendendam. Baginya kritikan adalah tamparan menyakitkan yang menghasilkan memar sehingga menimbulkan bekas yang mungkin akan sembuh tetapi butuh waktu lama. Orang seperti ini banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari, cenderung merasa paling bisa, paling hebat, paling berkuasa dan paling tahu segalanya. Sebagai seorang yang merasa paling-lah yang kemudian menyebabkannya menjadi orang yang anti kritik. Segalanya dinilai secara subjektif sehingga dengan sendirinya melahirkan asumsi-asumsi yang tidak membangun dan lebih banyak melakukan pembenaran.
Sejak manusia dilahirkan sesunggunya sudah dilengkapi dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Segalanya terbatas, maka kita butuh orang lain. Kita punya dua mata, dua telinga dan satu mulut maka perbanyaklah mendengar dan mengamati sekitarmu sebelum melakukan sesuatu. dalam konteks ini kesadaran akan pengetahuan menjadi poin yang palin penting, semakin anda sadar, anda akan semakin banyak menemukan kekosongan-kekosongan dalam otak anda bahwasanya anda masih belum banyak tahu sehingga perlu membuka diri lebih luas lagi untuk hal-hal baik yang datang dari orang lain. Inilah pentingnya kesadaran itu perlu tertanam dalam diri setiap manusia.
Saya teringat dengan seorang teman yang pernah mengungkapkan "Sesamaku adalah pribadiku yang lain". ya,, sebagai mahkluk sosial, manusia tentu membutuhkan sesamanya, sekedar menjadi kawan diskusi, rekan kerja atau pun hanya sebatas tetangga rumah. Mereka adalah pribadi-pribadi yang lain yang tanpa sadar punya peran dalam banyak hal tentang kehidupan kita.
Manusia sebaiknya menghindari menjadi orang yang realistis, hanya melakukan segalanya berdasarkan kewajaran-kewajaran atau kebiasaan-kebiasaan dan cenderung mengesampingkan nilai dan aturan, padahal dalam sebuah aturanlah terdapat kebenaran yang berlaku universal. Taatilah hukum dan lakukan karena disanalah terdapat indikator untuk menentukan benarsalahnya suatu tindakan.
Dalam perspektif budaya normal yang baik cenderung divonis sebagai sebuah kebenaran karena ukurannya adalah hati, perasaan dan hasrat. Sepanjang hatimu senang, perasaanmu berbunga-bunga dan hasratmu terpenuhi maka disaat itulah kebenaran sedang terjadi menurut versimu.
Satu kali dalam perjalanan, saya ditegur sesama pengguna jalan. Saat itu, saya mengendarai sepeda motor bersama seorang teman, tiba-tiba dua orang yang juga berboncengan menegur saya katanya, "Bos pakai helmnya". Saya memang tidak menggunakan helm, helmya saya gantung di motor (biasa sok jago dan merasa diri kebal banyak hal). Setelah mendapat teguran tersebut ada rasa jengkel dan suhu badan saya mendadak naik, meski begitu saya tetap mengambil helm dan memakainya. Tidak berselang lama, tiba-tiba kami mendapati sekelompok polantas sedang melakukan swiping. Saya melihat banyak pengendara yang ditahan karena tak mengenakan helm, lalu kami dibiarkan berjalan terus dan tidak ikut diperiksa. Suhu badan saya yang sebelumnya naik langsung drop, dalam hati saya berbisik "terima kasih telah menegurku".
Cerita diatas hanya rekaan belaka, saya hanya mencoba mengajak pembaca untuk memahami tulisan saya ini dalam gambaran yang lebih sederhana.
Sebuah pertanyaan ingin saya titipkan sebagai bahan refleksi di hari esok. Jika hukum suatu negara tidak mendatangkan kebaikan lalu untuk apa?
Dan tak lupa saya menitipkan pesan. Pandanglah kritik sebagai didikan dan terima kritik sebagai tanda pesahabatan jika kamu memang kaum intelektual.
Semoga bermanfaat..
Silahkan menulis di kolom komentar untuk kebaikan. Sebelumnya, "Terima kasih telah mengkritikku"

Komentar
Posting Komentar