Pemimpin dan Pengaruh


Saya pernah bertanya. Bagaimana seorang pemimpin yang baik?
Dari orang-orang yang saya tanya memberikan jawaban yang bervariasi. Ada yang mengatakan pemimpin yang baik itu adalah yang bisa memberikan rasa nyaman bagi siapa yang dipimpinnya, ada juga yang mengatakan bahwa pemimpin yang baik itu adalah pemimpin yang tegas dan berwawasan luas dan jawaban-jawaban lain yang menurut saya semuanya baik.

Suatu sore, saya mampir di sekretariat organisasi mahasiswa, suatu tempat yang telah banyak memberi saya pengetahuan sejak masih mahasiswa. Tiba-tiba salah seorang senior, yang tidak lain adalah mantan ketua di organisasi tersebut juga mampir di sekretariat. Kita kemuadian berdiskusi banyak hal, senior ini memang memiliki wawasan dan pola pikir yang kritis. Salah satu pernyataannya yang paling saya senangi adalah “silahkan kita berpikir anarkis jangan bertindak anarkis”. Di selah-selah diskusi ringan sore itu, saya kemudian mempertanyakan, menurut senior pemimpin yang ideal itu seperti apa? Dengan santai dan sedikit bergurau dia menjawab, sebelum saya jawab pertanyaan dari adek ini alangkah bagusnya kalau salah satu dari adek-adek buat kopi dulu supaya diskusi kita semakin menarik sambil tertawa dengan gaya ketawanya yang khas.

Jadi seberti ini, di tempat ini pada zamannya saya, setiap ada pelatihan kepemimpinan saya selalu mengangkat satu cerita yang menggambarkan bagaimana seharusnya seorang pemimpin. Suatu ketika, ada seorang prajurit tersesat dalam hutan, setelah berjalan cukup lama dan lelah akhirnya menemukan satu perkampungan yang penduduknya kikir-kikir. Prajurit ini sangat kelelahan dan kelaparan karena sudah beberapa hari tidak makan. Dia kemudian bertanya kepada salah satu warga, adakah makanan? Saya sangat lapar sudah beberapa hari tidak makan. Warga tersebut menjawab maaf pak, di kampung ini tidak ada makanan. Padahal warga sekitar baru saja selesai panen. Sang prajurit ini kemudian bertanya lagi kalau dandang besar ada? Warga menjawab, iya ada. Bolehkah saya pinjam, kalau di kampung ini tidak ada makanan, saya mau buat sup batu. Dengan penasaran warga menyediahkan dandang besar dan mengmpulkan batu kerikil untuk dimasak menjadi sup. Karena warga penasaran, akhirnya mereka berdatangan untuk menyaksikan bagaimana membuat sup batu. Setelah batu kerikilnya dicuci bersih, api dinyalakan, dandang besar itu lalu diisi air dan diletakkan diatas tungku batu yang didalamnya api sedang menyala. Sambil menunggu, sang prajurit membaringkan badan. Setelah satu jam batu ini dimasak, salah seorang warga membangunkan sang prajurit dari pembaringannya dan bertanya, prajurit apakah sup batunya belum masak? Dia lalu bangun dan mencoba sup batu ini, rasanya ada yang kurang kata sang prajurit ini. Apanya yang kurang pak, tanya warga. Sup batu ini akan terasa enak jika diberi sedikit daging, jika ada warga yang memiliki persiapan bahan makanan berupa daging, mungkin bisa kita masukkan. Warga yang memiliki persediaan daging kemudian mengambil daging dan memasukkannya ke dalam dandang, setelah daging dimasukkan, sang prajurit mencobanya lagi, sudah lumayan ada rasa tetapi akan lebih enak lagi seandainya diberi sedikit sayur-sayuran seperti wortel, kentang atau sawi. Warga yang memiliki persediaan wortel, sawi dan kentang segera mengambil perediaan mereka dan dimasukkan ke dalam dandang,. Setelah sawi, wortel dan kentang dimasukkan, warga bertanya lagi. Pak prajurit apakah sup batunya sudah enak? Sup batunya sudah enak tetapi kurang garam. Jika ada yang memiliki persediaan garam mungkin bisa dimasukkan. Segera warga mengambil persediaan garam di rumahnya untuk dimasukkan ke dalam dandang. Setelah garam dimasukkan, warga bertanya lagi Prajutit, apakah masih ada yang kurang? Sang prajurit menjawab, rasanya sudah sangat enak tetapi apakah kita mampu menghabiskan sup dandang yang banyak ini dengan jumlah kita yang hanya beberapa orang saja? Supaya semua warga menikmati sup batu ini, sebaiknya panggil semua warga ke sini agar kita sama-sama menikamati sup batu ini dan supnya bisa kita habiskan. Akhirnya warga yang ada di situ segera memanggil semua warga untuk datang. Setelah semua warga berkumpul, sup batunya diangkat dan dibagi ke semua warga hingga tak satupun warga yang tidak kebagian. Setelah menikmati sup batu bersama-sama, dandang lalu dituang dan ternyata batunya tertinggal di dasar dandang, warga tidak diberi makan batu tetapi sup yang terbuat dari daging dan sayur-sayuran, jelas sang prajurit.

Dari cerita sup batu ini, anda bisa belajar dan mengerti bagaimana pemimpin ideal itu. Kata senior di ujung ceritanya. Jadi pemimpin itu harus kreatif, substansi seorang pemimpin adalah pengaruh dan yang paling pentig adalah kemampuannya membaca situasi. Bayangkan sang prajurit tadi dalam situasi kelaparan, dia dipertemukan dengan sekelompok masyarakat yang kikir, tetapi dengan kemampuanya yang kreatif dan mampu memunculkan sesuatu yang baru akhirnya semua warga penasaran dan bersama-sama menyiapkan bahan-bahan makanan untuk dimasak. Semua orang tahu batu bukan bahan makanan, sesunggunya batu dalam cerita ini hanya dijadikan sebagai alat pancing untuk memancing rasa penasaran warga sehingga mereka akhirnya mau mengumpulkan bahan makanan untuk dimasak. Dan hanya dengan cerita sup batu, sang prajurit mampu menyatukan seluruh warga untuk makan bersama.

Pernahkah kamu menyaksikan seseorang yang menurutmu sangat tidak layak jadi pemimpin tapi dia tiba-tiba diangkat jadi pemimpin? Misalnya tiba-tiba diangkat jadi ketua sales karena sudah dianggap memilki pengalaman selama bertahun-tahun. Hal ini banyak terjadi di perusahaan, banyak yang diangkat menjadi koordinator sales karena mungkin selama menjadi sales dia selalu menunjukkan performa sebagai pekerja/keryawan yang baik dan mampu menjalan perintah dengan baik. Ukuran semacam ini apakah layak dijadikan acuan? Seorang yang menunjukkan performa baik sebagai bawahan belum tentu bisa menjadi pemimpin yang baik. Logika sederhananya, seorang dari karyawan lapangan diangkat menjadi pemimpin maka pekerjaannya akan berubah sekalipun tetap bergelut dengan hal dan pekerjaan yang sama. Seorang tukang batu kerjanya menyusun batu setiap hari saat membangun sebuah bangunan, tiba-tiba diangkat menjadi mendor. Ruang lingkup pekerjaannya masih tetap sama tetapi kesibukannya sudah berbeda, dia bahkan tak pernah lagi menyusun batu tetapi lebih banyak melakukan fungsi-fungsi pengawasan. Secara hitung-hitungan dia layak karena pernah berada di posisi yang sekarang dibawahinya tetapi kepemimpinan bukan hanya dinilai dari deretan angka-angka. Banyak hal yang diperluhkan untuk menjadi seorang pemimpin misalnya keberanian, ambisi (bukan ambisi pribadi) dan kemauan untuk berbuat sesuatu yang baru serta kemampuan untuk memahami kondisi dan situasi. Dan yang paling penting adalah bisa memberi pengaruh, memilki pemikiran terbuka, tidak cepat puas, dan bijaksana. Seorang pemimpin harus terus berinovasi karena tanpa inovasi seorang pemimpin akan terkezan mati zaman. Kemampuan lain yang harus dimiliki adalah kemampuan bernegosiasi seperti meyelesaikan konflik antarbawahan. Kehidupan berkelompok selalunya akan menemui konflik, ketika pemimpim tidak mampu hadir menjadi penengah dan bertindak sebagai pendamai maka kegagalan besar sudah di depan mata. Yang lebih mengerihkan lagi ketika justru seorang pemimpin yang mengalami konflik dengan bawahanya dan tidak mampu menyelesaikannya.

Kadang juga kebanyakan kita susah membedakan antara Bos dengan Pemimpin. Memang secara umumnya kedua kata ini sering disamakan. Tetapi saya memiliki pemahaman yang berbeda, antara bos dan pemimpin memang memilki kesamaan, bos menjalankan fungsi kepemimpinan tetapi tidak semua pemimpin disebut bos. Pemimpin sejauh pemahaman saya adalah orang yang mendapat mandat atau tanggung jawab untuk mengkoordinir suatu kelompok sehingga dalam kerja-kerjanya pemimpin lebih banyak melakukan pola-pola koordinasi. Dalam kapasitas sebagai pemimpin bukan berarti dia melepas status karyawan, dia tetap seorang karyawan hanya saja berada lebih diatas secara struktural dibanding dengan karyawan lainnya. Inilah yang membedakannya dengan Bos, Bos hanya milik kaum Kapitalis yang dengan kekayaan dan modal yang dimilikinya telah berhasil menciptakan kekuasaannya sendiri, sehingga dalam kapasitasnya sebagai bos yang mempekerjakan orang dia menjalankan pola komunikasi yang digunakan bukan hanya koordinasi tetapi lebih cenderung bersifat perintah dan permintaan. Lihatlah seorang kepala preman, karena dia jago dan tak terkalahkan maka dia telah berhasil menciptakan kekuasaannya sendiri sehingga anggotanya memanggilnya bos, sama halnya dengan para pemilik modal.

Dalam hal gaya komunikasi, kebanyakan seorang bos lebih sering menggunakan kata saya. Misalnya, saya minta barang ini harus ada dalam jam dan detik ini juga jika tidak maka saya akan melakukan otoritas saya selaku pemilik perusahaan ini. Kata saya dalam percontohan ini telah menggambarkan bahwa betapa hanya dia saja punya kuasa. Tetapi pola atau komunikasi seorang pemimpin lebih sering menggunakan kata kita, hal ini menunjukkan adanya kesamaan antara pemimpin dan bawahan. Misalnya, kita usahakan barang ini bagaimana pun cara harus ada jam dan detik ini.

Memimpin itu seni, seorang pemimpin harus mampu melakukan sesuatu yang bermutu. Dari segi tutur kata dan tindakan harus selalu menunjukkan kesan positif, dengan begitu seorang pemimpin akan dipandang elok dari segi etika dan estetika. Seorang pemimpin harus memilki etos kerja yang baik

Semoga bermanfaat, terima kasih.

Komentar