Money Politic atau politik uang adalah dua kata yang tak asing lagi di telinga masyarakat terlebih dalam masa-masa menjelang Pemilu yang baru saja selesai digelar pada tanggal 17 April kemarin. Rakyat telah memilih pemimpin untuk 5 tahun ke depan, juga telah memilih DPD dan DPR dari Kota/Kabupaten hingga Pusat. Semoga mereka yang terpilih benar-benar akan memegang janji-janji yang telah diumbar di masa-masa kampanye sebelumnya. Mari kita menantikan keputusan resmi dari KPU.
Politik uang banyak disuarakan oleh kelompok-kelompok masyarakat maupun individu dengan nada dan pendapat yang tentunya variatif pula, ada yang bersuara menolak politik uang dan benar-benar menolaknya, ada yang bersuara menolak tetapi masih memikirkannya saat dalam sepih, ada yang malas tahu dan yang paling parahnya ada juga yang sengaja mencari-cari untuk mengisi dompet dan mengganjal perut. Maka lahirlah pendapat bahwa politik uang tak lain adalah politik perut.
Setelah pemilu selesai, ternyata cerita tentang politik uang masih berlanjut. Saya mengamati lewat sosial media, banyak yang menjadikannya status. Namun untuk yang ini, nadanya hampir seirama yakni menyayangkan dan menyoroti politik uang yang telah merusak jalannya pesta demokrasi. Untuk yang ini, tentu saya sangat sepakat. Para pelaku politik uang benar-benar telah mencedarai Demokrasi di negara ini, namun sayangnya banyak dari mereka yang kemudian mendapat kesempatan untung duduk manis di Kursi empuk legislatif. Saya katakan duduk manis karena saya tidak yakin mereka akan betul-betul menjadi wakil rakyat yang akan memperjuangkan jeritan-jeritan rakyat yang telah memberinya mandat, tentu karena mereka merasa urusan mereka dengan konstituennya telah selesai seiring selesainya pencoblosan karena semua telah dibayar lunas.
Oleh karena itu, ada dua poin kesimpulan yang saya dapatkan melalui pengamatan saya tentang politik uang.
Yang pertama, "Politik Uang adalah penyakit dunia politik yang tak kunjung sembuh"
Sejak saya mengenal namanya interaksi dengan sesama, telah berapa kali pula saya berjumpa dengan yang namanya pesta demokrasi. Mulai dari pemilihan kepala desa, kepala daerah, pemilihan legislatif dan pemilihan presiden. Dari semua itu, selalu dibumbuhi dengan politik uang, mulai dari masyarakat pedesaan hingga masyarakat kota. Lalu siapa yang salah?
Mencari siapa yang bersalah tentu sangatlah muda, yang melakukan itulah yang salah. Tetapi menetapkan bahwa dia benar-benar terbukti bersalah itu yang tak muda. Hal ini disebabkan karena kita hidup di negara hukum, kita boleh menduga bahwa yang ini dan yang itu bersalah tetapi harus dengan pembuktian. Menduga silahkan, menuduh jangan. Maka dari itu, untuk meredam virus politik uang ini terus merajalela dalam setiap kontestasi politik di negeri ini, harus menyelesaikannya dari segi regulasi. Pengaturannya harus diperketat, para penegak aturan harus betul-betul siap menegakkan aturan jangan setengah-setengah apalagi sampai ada kompromi. Penegak hukum dalam hal ini aparat kepolisian dan jajaran TNI harus betul-betul siap mengawal dan menegakkan aturan di setiap pesta demokrasi sesuai dengan aturan perundang-undangan. Badan Pengawas Pemilu harus betul-betul mengawasi jalannya pemilu, Komisi Pemilihan Umum harus berdiri tegak diatas aturan dan bertindak independen, bersih dari segala bentuk intervensi dari pihak manapun, panitia pemungutan suara di setiap TPS harus bekerja bersarkan standar aturan dengan penuh tanggung jawab.. Dengan begitu, penyakit politik uang ini bisa dicegah di NKRI ini. Maka percayalah, Indonesia akan sembuh dari penyakit yang telah sekian lama diderita.
Yang Kedua "Politik uang menjadi kambing hitam ketika dalam posisi kalah"
Coba perhatikan, setiap kali selesai pesta demokrasi dilaksanakan, yang kalah akan menyalahkan politik uang. Katanya, karena politik uang telah mengalahkan segalanya. Pada poin ini, saya antara sepakat dan tidak. Diawal tulisan saya ini saya sudah katakan bahwa politik uang adalah virus dan penyakit dalam setiap pesta demokrasi. Tetapi ingat bahwa tidak semua orang terjangkit virusnya dan tidak semua orang terserang penyakitnya. Masih banyak masyarakat yang masih sehat. Lalu bagaimana ketika saya balik bertanya, bagaimana denganmu? Apakah kamu betul-betul telah memanfaatkan masa-masa kampanye yang telah ditetapkan KPU sebagai kesempatan untuk mensosialisasikan diri? Bagaimana dengan kehidupan pribadi dan kehidupan sosialmu, apakah semua baik-baik saja.? Bagaimana dengan konsep yang kau sodorkan kepada masyarakat dan manajerial tim yang telah kau terapkan? Bagaimana dengan sikap, tutur kata dan pergaulanmu sebelum dan saat kau sedang menyandang status seorang "Calon"? Semua akan diperhatikan dan masyarajat kemudian membandingkan maka tak jarang keluar kata-kata sudah berbeda karena sedang mencari nama baik.
Ingat, semua akan dinilai ketika kamu mencoba menawarkan diri untuk menjadi figur yang ditokohkan. Masyarakat akan membuka catatan mereka masing-masing, mengingat semua yang pernah terjadi, mengamati yang sedang terjadi hingga akhirnya menentukan pilihan. Jika semua pertanyaan diatas kau jawab dengan kata "baik" lantas kamu belum teripilih maka hanya ada tiga kemungkinan yang pertama karena kamu tidak ditakdirkan untuk itu dan memang tak ada yang mampu melawan takdir. Yang kedua masyarakat belum melihat sesuatu yang lebih dari dirimu dan yang ketiga mungkin ia itu karena dikalahkan oleh politik uang. Tetapi jika masih sebagian dari pertanyaan diatas kau jawab "tidak baik" dan sebagiannya lagi "baik" maka jangan salahkan siapa-siapa, barangkali di situ letak kesalahanmu. Apalagi jika semua pertanyaan diatas jawaban sama semuanya "tidak baik" lebih baik diam dan lanjut berbenah diri. Jangan kau "selimuti" (balut dan jadikan alasan) dirimu dengan politik uang, jangan kau berlindung untuk membela diri dan menutupi kelemahanmu dengan berlidung dibalik politik uang dan mengkambinghitamkannya. Bukan politik uang yang salah dalam perkara ini tetapi faktor internal yang tidak beres. Faktor internal ini bisa dari internal timses bisa juga dari dalam diri sendiri. Itulah pentingnya prinsip, komitmen dan manajerial yang baik.
Pada intinya, semua yang sehat tak akan ada yang sepakat dengan politik uang dan semua yang sehat pasti menolak itu. Namun tidak semua kegagalan dalam politik dikalahkan oleh politik uang, kadang yang mengalahkan itu adalah diri sendiri. Bisa jadi karena masih terlalu mentah untuk terjun kedunia politik. Penting untuk dicatat bagi yang mungkin punya niat terjun ke dunia politik. Politik itu tidak terang tidak gelap, dia abu-abu. Bisa memberi harapan bisa juga menghancurkan. Karena itu seorang politikus harus bermental baja, agak tak muda retak saat terbanting dan terjatuh. Demikian juga saat berhasil, dengan mental yang baik, engkau akan tetap menjadi baik, tidak gelap mata apalagi jemawa. Semoga bermanfaat.
Salam hangat dari saya lewat pemikiran sederhana ini.
Leo Maraya
Kaimana, 19 April 2019. 02:00 WIT.
Salam hangat dari saya lewat pemikiran sederhana ini.
Leo Maraya
Kaimana, 19 April 2019. 02:00 WIT.

Komentar
Posting Komentar