Siapa Lombe’
Lombe’ diperkirakan lahir 1880 dan meninggal 3 Oktober 1985. Thn 1910 mengenal agama Kristen dari seorang bernama Ambo Milla’ dan langsung tertarik. Thn 1913 saat sekolah Zending dibuka di Simbuang mendatangkan guru Tawaluyan. Lombe’ yang telah mengaku masuk Kristen, bersama guru Tawaluyan mulai kebaktian minggu berdua di rumah Lombe’. Sejak itu Lombe’ terus aktif menyebarkan agama baru itu (menginjili) kepada keluarga dan tetangga sehingga pada tahun 1913 itu juga 6 orang ikut mengaku masuk Kristen. Untuk melanjutkan kegiatan penginjilannya Lombe’ (pada thn 1913 itu juga) mulai mengikuti pelajaran agama kristen (katekisasi) di Sangalla’, pusat sekolah Zending saat itu. Rute yang dilalui menuju Sangalla’ adalah Mappa’, Buakayu, Rano, Gandang batu, Mengkandek baru Sangalla’. Jarak yang jauh tidak menyurutkan semangat untuk terus secara periodik selama 11 tahun mengikuti katekisasi. Tujuannya bukan untuk sekadar dapat diangkat sidi tetapi untuk mendapatkan pengetahuan melanjutkan penginjilan. Ternyata usahanya tidak sia-sia, Tuhan memberkati kegiatannhya walaupun Lombe’ sendiri belum “resmi” kristen karena belum dibabtis. Tuhan bekerja melalui kegiatannya, dari tahun ke tahun orang yang mengaku masuk kristen terus bertambah. Tahun 1919 mengaku 8 kk, thn 1921 mengaku 6 KK, tahn 1922 mengaku 9 KK, dan tahun 1923 mengaku 8 KK.
Baru pada tahun 1924 babtisan pertama dilakukan di Simbuang. Lombe’ dibabtis bersama dengan 52 orang yang telah diinjilinya. Dengan babtisan itu maka Jemaat resmi berdiri. Lombe’ sebagai yang dituakan diantara orang kristen baru mencanangkan langkah berikutnya yaitu pembangunan gedung gereja. Mereka sepakat dan tahun itu juga mereka masuk hutan menyiapkan ramuan. Dalam waktu setahun yaitu tahun 1925 gedung gereja di Rura berhasil diselesaikan. Tetapi baru ditahbiskan pada tahun 1935.
Rupanya hasil katekisasi yang paling melekat dalam pengethuan Lombe’ adalah peraturan gereja dan kehidupan berjemaat. Karena itu setelah gedung gereja selesai ia bertekat memanggil pendeta. “Jemaat tidak mungkin menjalankan fungsinya tanpa pendeta” itu prinsip yang diyakininya. Namun niat itu baru terwujud pada tahun 1943 saat mereka berhasil memanggil dan mengurapi alm B. Tuling sebagai pendeta. Konon inilah pendeta yang pertama dan satu-satunya dipanggil jemaat di era pelayanan Zending, sebelum Gereja Toraja berdiri sebagai satu sinode pada tahun 1947. Bahwa kehadiran seorang pendeta dalam suatu Jemaat adalah suatu keharusan, ini dibuktikan dari kenyataan bahwa mereka harus memanggil pendeta justru pada masa pendudukan Jepang dimana seluruh masyarakat mengalami kehidupan yang sangat sulit.
Jika kita menyadari saat ini betapa sulitnya menginjili orang Simbuang, Gereja Toraja mengalami itu, kita hanya dapat berkata bahwa apa yang terjadi di era Lombe’ adalah kerja Roh Kudus. Mereka yang terlibat saat itu hanya alat Tuhan. Partisipasi Lombe’ dkk juga, tidak didukung oleh kemampuan apapun, pengetahuan tidak, hartapun tidak, semua itu hanya karena anugrahNya. Ia berkenan “memanggil“ dan “menugaskan” Lombd’ dkk. Pertanyaan: apakah “panggilan” terhadap Lombe’ ini telah berakhir setelah Lombe’ meninggal? Tentu tidak. “Panggilan” telah menjadi warisan seluruh keluarga turunan Lombe’. Ingin atau tidak ingin, “panggilan untuk melayani Tuhan” itu akan datang bagi yang Ia pilih, sesuai bakat yang dianugrahkanNya. Siaplah. Lihatlah, berapa cucu dan cucu mantu Lombe’ yang jadi pelayan Tuhan saat ini? Kita hanya dapat bersyukur.
(Sumber tulisan ini : “RIWAYAT HIDUP SINGKAT ALM. LOMBE’”, Buletin Gereja Toraja no. 7/8 thn ke XVI Juli/Agustus 1985. Terima kasih kepada Pdt. John Matalangi yang telah mendokumentasikan sekelumit sejarah Injil masuk Simbuang).
Komentar
Posting Komentar