ADAT ISTIADAT, BUDAYA,
RELIGI DAN FEMINISME
bahwa sebenarnya untuk apa kita menciptakan pseudo statements yang tak jelas akarnya tersebut. apakah karena kebudayaan, faktor diskriminasi gender, atau hanyalah sebuah penetrasi fiktif patrilinial semata. yang akhirnya di satu sisi membuat satu sumber daya yang seharusnya produktif/dinamis menjadi statis. dalam hal ini kaum feminis yang tidak dapat berbuat apa-apa lagi selain dibutakan oleh judgements semu terhadap dirinya.
selain dari kedua orang tua, perlakuan yang sama juga terjadi di lingkungan, sekolah, teman-teman, di jalan-jalan, komunitas-komunitas bahkan dimanapun kaum feminis berada. sungguh ironis.
menilik kembali kata-kata PEREMPUAN yang dijadikan status gender terhadap kaum feminis sebagai sebuah contoh nyata bahwa kaum feminis masih belum merdeka, masih belum mendapatkan hak untuk ber "suara" dan masih menjadi "boneka mainan" yang bisa diperlakukan sesuka hati dan sembarangan tanpa harus protes terhadap perlakuan tersebut.
asal kata perempuan itu sendiri berasal dari kata per-empu-an yang berarti budak wanita yang acap dikumandangkan para penjajah jepang terhadap wanita yang dijadikan budak seks di jaman indonesia masih menjadi tawanan jepang. dimana kata-kata itu masih saja dipakai sampai sekarang. betapa kejamnya perang dan penindasan. betapa kejamnya perlakuan yang diterima oleh kaum feminis. betapa rendahnya status gender yang diberikan pada kaum feminis.
menelaah kembali momok-momok yang dikembangkan masyarakat terhadap kita kaum feminis berupa kenyataan untuk harus berbuat tanpa mau peduli apakah kita bisa menerima. sebut saja sebuah contoh kecil sugesti yang berbunyi " anak cewek harus manis, nurut, nggak boleh bandel (yang boleh bandel cuma anak cowok) nggak boleh ini, nggak boleh itu, nggak boleh begini, nggak boleh begitu, nggak pantes begitu, nggak pantes begini bla.. bla.. dll.. dll.. " yang mau tidak mau, suka tidak suka kita harus menurutinya tanpa peduli apakah kita suka atau sanggup untuk menjalaninya.
dimana apabila kita berbuat melenceng dari pernyataan tersebut maka kita akan mendapatkan pandangan dan perlakuan sinis dari masyarakat sekitar yang tanpa mau mengetahui dan peduli berdasarkan apa momok itu dibuat.
untuk apa? betapa statisnya hal yang bersifat adat istiadat dan budaya tersebut. atau mungkin ada penjelasan tentang mengapa momok itu begitu dipuja dan ditekankan kepada kaum feminis? apakah karena faktor religi yang menyatakan bahwa wanita tercipta dari tulang rusuk pria? yang menjadikan wanita harus tunduk dan menurut? atau hal yang sudah lama berakar karena intimidasi terhadap kaum feminis sejak wanita ini pertama kali berada di dunia? kebudayaan lama yang amat terasa begitu pahit sebagai contoh wanita yang dijadikan sebagai tumbal kedudukan ataupun nilai jual untuk kepentingan nama kedudukan dan martabat keluarga yaitu berupa kawin paksa. dimana wanita dijadikan sebagai korban adat istiadat tersebut. bicara soal korban, pada jaman suku-suku (penduduk asli) di amerika sedang jaya-jayanya. wanita justru dijadikan persembahan (lagi-lagi korban) dalam acara ritual mereka seperti hal yang dilakukan suku aztec yang mengorbankan gadis perawan untuk dipenggal kepalanya. begitu juga halnya di negara china bahwa anak wanita tidak ada gunanya melainkan hanya sebagai pengganggu dan hanya akan menimbulkan kerugian yang apabila mereka mendapatkan anak wanita maka mereka akan segera menjualnya. dimana kaum feminis hanya dianggap sebagai objek penerus keturunan (objek seks), sebagai tumbal dan sebagai pengganggu. dan mungkin masih banyak lagi contoh-contoh budaya seperti yang diatas.
ditambah lagi kenyataan yang kita temui di dalam kehidupan beragama dimana dalam ajaran religi tersebut (islam) diperbolehkan adanya bentuk poligami (seorang laki-laki yang boleh beristri lebih dari satu) dimana kita kaum feminis tidak boleh melakukan hal yang sama. bukankah semakin rendahnya kedudukan kita,semakin nyata stratifikasi yang diberikan kepada kita dan betapa menonjolnya diskriminasi terhadap kaum feminis oleh sistim poligami tersebut. sungguh kita seperti tidak ada artinya. mengapa justru dalam hal yang sering kita jadikan panutan, sesuatu yang kita adore justru memandang rendah akan keberadaan kita?
lagi-lagi dalam kalimat "lady's first" yang bertujuan untuk menghargai atau menghormati kita justru berbalik menjadi kenyataan bahwa kaum feminis dianggap lemah dimana kita adalah sesuatu yang harus dilindungi. akibat dari ilmu pasti (kedokteran) yang menyatakan bahwa wanita lebih lemah daripada pria. daya tahan tubuh, kecepatan dalam bereaksi dan bertindak, dll. dimana di lain hal, ilmu pasti itu sendiri lagi yang menyatakan bahwa kepekaan, daya tangkap dan daya ingat wanita lebih tinggi dari kaum pria. sungguh membingungkan. masalah psikis dan fisik yang haruskah kita jadikan objek untuk distratifikasikan? yang sampai sekarang pun kaum feminis masih saja dianggap second social station dalam masyarakat.
sehingga kaum feminis yang terus ditekan dan dicekoki itu menjadi benar-benar merasa lemah, benar-benar tidak boleh begini dan begitu dan pada akhirnya cuma bisa diam duduk di tempat menanti suruhan yang ditelankan bulat-bulat dan mentah-mentah padanya. tanpa harus tau untuk apa dan apa kegunaan yang ditelankan padanya tersebut. sungguh kita tak lebih bagai seorang budak. sehingga kaum feminis pun berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatian dan akuan dari masyarakat berdasarkan statement palsu yang dipakaikan padanya. bahwa menjadi seorang wanita harus begini dan tidak boleh begitu. sehingga banyak kaum feminis yang lebih memompa penampilan fisiknya ketimbang kemampuan psikisnya tanpa menyadari bahwa hal yang ia lakukan tersebut merupakan perendahan martabat (perkosaan) atas dirinya.
apakah menjadi seorang wanita harus seperti itu? haruskah kita tetap terus-terusan menerima adat istiadat/ budaya/ religi/ sugesti-sugesti/ momok-momok/ statements yang tidak sesuai hati nurani kita? apakah kita harus menerima perlakuan sadis terhadap kita? atau kita tidak ambil peduli dan terus saja duduk di kursi listrik kita sampai kita benar-benar "mati" oleh aliran tegangan listrik di atas kursi eksekusi kita? atau justru bangkit berdiri, melarikan diri dan melawan?
utuk apa sebenarnya pengakuan masyarakat terhadap diri kita? apakah agar kita diterima? tapi bagaimana kalau kita memang telah diterima tapi kita tersiksa oleh penerimaan tersebut dan kita akan tetap saja terkungkung bagai "burung dalam sangkar" karena segala sesuatu yang tidak sesuai hati nurani kita? apakah kita harus nrimo/ nurut? sampai nanti pada akhirnya keeksisan kita benar-benar musnah dan terinjak-injak oleh adat budaya palsu tersebut?
kita tidak lagi hidup di jaman dulu yang begitu menuhankan dan memuja adat istiadat. tidak ada keharusan bagi kita untuk terus mengikutinya untuk tetap diterima dan diakui dalam masyarakat bahwa kita adalah seorang wanita. karena kita tidak lagi hidup di jaman dulu. mengapa kita harus memakai apa yang seharusnya kita pakai sebagai seorang wanita? mengapa kita harus mengikuti apa yang seharusnya wanita lakukan sebagai seorang wanita? mengapa kita harus menuruti apa yang seharusnya kita turuti sebagai seorang wanita karena kita adalah seorang wanita? untuk apa semuanya? kita hanya menuntut persamaan hak, kesetaraan dan penghargaan sebagai seorang manusia yang mempunyai martabat dan harga diri. bukan untuk menentang patrilinialisasi secara umum apalagi untuk berebut hegemoni. segitu sajalah kiranya. maaf kalau artikel-artikel yang aku buat kurang sumber-sumber tertulisnya. karena terus terang aku kurang suka membaca karena membaca dan langsung mempercayai apa yang aku baca sama saja dengan aku percaya dengan sistim pembelajaran (sekolah) meskipun sebenarnya aku orang yang sekolah (sekarang kuliah). terima kasih.
Komentar
Posting Komentar