Yang Dinilai Hari Ini adalah Apa yang Kita Lakukan bukan Apa yang Kita Ceritakan

Sebab hari ini hanya akan menjadi kenangan ketika hari berikutnya tiba, maka jalanilah hari ini seakan-akan besok dunia akan kiamat dan bermimpilah akan masa depan seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Pesan ini dulu pertama ku dengar dari seorang senior di organisasi ketika aku masih menjadi mahasiswa.

Sebagaimana dunia organisasi kemahasiswaan pada umumnya selalu penuh dengan pesan-pesan bijak dan penuh arti. Hal ini tentu biasa-biasa saja karena pada hakikatnya masa-masa tersebut adalah masa pembentukan karakter, masa pencarian jati diri dan penuh dengan upaya menemukan sejuta inspiratif untuk hari ini yang sedang kita jalani sekarang. Bagaimana kita hari ini adalah buah dari segala upaya yang pernah kita lakukan di masa lampau. Ketika hari ini kita bisa baca tulis semua karena kita pernah sekolah, ketika hari ini kita menjadi lebih berpengetahuan karena kita pernah belajar dan telah banyak pengalaman yang kini menumpuk dalam ingatan kita yang sewaktu-waktu bisa diterapkan ketika diperhadapkan pada persoalan yang mungkin tak sama persis tetapi mirip. Inilah sebabnya mengapa orang-orang bijak sering berpendapat bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Kita harus mengakui itu, tetapi kita juga harus mengakui bahwa sebaik-baiknya pengalaman akan kehilangan makna ketika tanpa pengamalan.

Karena itu teruslah bangga dengan masa lalumu, karena dari sana kamu telah diperkaya dengan tak terhitung pengetahuan dan bekal. Tak cukup hanya dengan bangga namun juga perlu dihargai. Menghargai masa lalu sama halnya menghargai diri sendiri.

Menghargai masa lalu tentu bukan dengan menceritakannya tetapi dengan mengamalkannya. Karena pada kenyataannya seseorang yang hanya tahu menceritakan prestasi-prestasi masa lalunya kepada orang lain, hanya akan dinilai sombong. Siapa yang lihat dan siapa yang tahu kebenaran cerita masa lalumu selain kamu dan Tuhanmu. Orang yang kamu baru kenal seminggu yang lalu kau ceritakan bahwa nilai pendidikan kewarganegaraanmu selama sekolah selalu bermain pada kisaran nilai 90 sampai 100 hanya akan sebatas tahu saja. Apakah mereka percaya? mungkin.

Satu jam setelah kau bercerita dengannya, seorang datang meminta pertolongan lalu kau tidak mau menolongnya meskipun kamu bisa menolongnya. Seketika itu ceritamu tak lebih dari tumpukan sampah di TPA yang hanya menghasilkan bauh menyengat dan membuat orang-orang menjadi jijik.

Kau boleh saja menceritakan kepada setiap orang yang kau jumpai tentang keberhasilan-keberhasilanmu di masa lalu siapa tahu memang mereka sedang butuh inspirasi tetapi yang tak boleh kau lupakan juga adalah pembuktian bahwa cerita masa lalumu memang sepadan dengan sikap dan tindakanmu hari ini. Kau mengukir banyak prestasi di masa lalu itu kisahmu tetapi kau dan aku mengukir prestasi hari ini, itulah cerita kita. Di masa yang akan datang, mungkin saja kau akan kembali menceritakan kisah kita hari ini kepada orang lain itu hakmu sebagai bagian dari caramu menemukan cerita yang baru, tetapi jangan lupa bahwa dalam setiap perjumpaan dan kerja sama yang orang nilai adalah apa yang kau lakukan bukan apa yang kita ceritakan.

Sebaik-baiknya seribu cerita lebih baik lagi satu buah tindakan nyata.
Semoga bermanfaat.

Komentar